Rabu, 05 Desember 2012

DESAIN KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN MATERI PENGEMBANGAN MORAL DAN AGAMA BAGI ANAK USIA DINI

1.    Pembelajaran bagi anak usia dini
Sebelum mengulas desain kegiatan pembelajaran dan pengernbangan moral-agama pada anak di sini terlebih dahulu perlu dikemukakan sekilas tentang masa anak anak. Menurut reni akbar dkk, masa prasekolah merupakan masa-masa bahagia dan amat memuaskan dari seluruh kehidupan anak. Untuk itulah kita perlu menjaga hal tersebut sebagaimana janganlah memaksakan sesuatu karena diri kita sendiri, baik mengaharapkan secara banyak maupun mencoba melakukan hal-hal yang memang mereka belum siap.
Penelitian Sue Moskowitz terhadap sejumlah anak yang diajar membaca pada waktu dini menunjukkan bahwa anak-anak tersebut tidak mampu mempertahankan kelebihan-kelebihan yang mereka miliki dari teman sekelasnya yang tidak dapat membaca sebelum cukup umur. Moskowitz juga mempertanyakan anak-anak yang didorong orang tuanya belajar membaca pada usia dini.

2.    Pembelajaran nilai moral dan agama bagi anak usia dini
Dalam kaitan dengan perkembangan moral anak menurut Charles Wenar dalam Akbar dikatakan bahwa perkembangan moral anak berjalan lamban dan bergerak sesuai dengan meningkatnya kematangan pada diri anak untuk dapat memahami nilai-nilai keberhasilan, kejujuran, dan tanggungjawab. Menurut hemat pengenalan mengenai sesuatu yang baik dan yang tidak baik,seperti dalam bermain anak juga sudah harus mulai diajarkan, misalnya ketika dalam bermain anak berebut mainan yang bukan rniliknya maka guru atau orang tua segera merespons dengan bahasa anak. Ini merupakan bagian dari peletakan dasar-dasar sikap dan kepribadian yang terpuji pada diri anak.Mengacu pada deskripsi tersebut maka kegiatan pembelajaran dan pemberian materi moral-agarna perlu dirancang secara sederhana sesuai dengan  tingkat kemampuan anak, seperti kegiatan bermain sambil belajar.
Menurut EIis(2005) dalam Hidayat, ruang lingkup materi moral-agama pada program PAUD meliputi:
a)    Peletakan dasar-dasar keimanan
b)    Peletakan dasar-dasarkepribadian/budi pekerti yang terpuji, dan
c)    Membiasakan beribadah sesuai dengan kemampuan anak.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala rutinitas dalam kehidupan sehari-hari anak hendaknya selalu diwarnai dengan nuansa keagamaan agar mereka kelak kemudian selalu ingat kepada Tuhannya.
Selanjutnya, dalam merancang kegiatan pengembangan moral-agama pada anak usia dini perlu dilakukan secara terus-menerus dan terpadu, baik terpadu dalam hal kerjasama antara orang tua dan guru maupun terpadu dalam hal materi pemberajarannya, seperti memadukan antara yang teoritis dan praktis. Karena pada masa usia dini, anak belum mampu secara langsung memahami hubungan-hubungan antara yang teoritis dan praktis. Pada masa usia dini, anak masih banyak didominasi oleh pengetahuan yang masih bersifat abstrak. Oleh karena itu keterpaduan ini perlu dirancang oleh pendidik agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara maksimal dan efektif.
Merancang kegiatan pengembangan moral agama juga bisa dilakukan dengan cara mengaitkan kehidupan alam sekitar, seperti lingkungan alam dan lingkungan sosial yang sering dialami anak-anak, kemudian nilai-nilai agama tersebut dimasukkan sebagai bagian dari lingkungan tersebut. Misalkan bagaimana seorang anak harus merawat lingkungan alam, seperti tumbuhan,hewan, kebersihan, dan lain sebagainya. Demikian pula dalam lingkungan sosial,misalkan bagaimana seorang anak harus berbuat baik kepada sesama teman ketika ada temannya yang membutuhkan seperti pinjam pensil, penghapus, dan lain sebagainya. Contoh-contoh empirik tersebut dimasuki dengan ajaran-ajaran moral-agama dengan menekankan bahwa hal-hal yang perlu dilakukan adalah berbuat baik kepada siapa saja sebab ajaran agama mengajarkan kepada kita demikian, dan bagi siapa saja yang menjalankan secara senang, Allah akan mengasih sayangi, dan pada suatu saat Allah juga akan memberikan sesuatu yang lebih baik dari pada yang kita lakukan sekarang ini.

3.    Pengembangan moral-agama dalam Garis-garis Besar Program Kegiatan Belajar (GBPKB) di PAUD.
Dalam hal pengembangan moral-agama dalam Garis-garis Besar Program Kegiatan Belajar (GBPKB) di PAUD diistilahkan dengan materi program pembentukan perilaku anak melalui pembiasaan yang terwuiud dalam kegiatan sehari-hari. Adapun tujuan dari program pembentukan perilaku adalah untuk mempersiapkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai moral pancasila dan agama.

Pokok-pokok dan ruang lingkup materi tersebut meliputi:
a.    Berdoa sebelum dan sesudah memulai kegiatan
b.    Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain
c.    Tolong menolong sesama teman
d.    Rapi dalam bertindak dan berpakaian
e.    Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan serta bersedia menerima tugas, menyelesaikan tugas, dan memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu
f.    Memiliki sikap tengang rasa terhadap keadaan orang lain
g.    Berani dan mernpunyai rasa ingin tahu yang besar
h.    Merasa puas atas prestasi yang dicapai
i.    Bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan
j.    Bergotong royong sesama teman
k.    Mencintai tanah air
l.    Mengurus diri sendiri, antara lain meliputi membersihkan diri sendiri,berpakaian sendiri, makan sendiri, dan memelihara milik sendiri
m.    Menjaga kebersihan lingkungan, termasuk membantu membersihkan dan membuang sampah pada tempatnya, dan menyimpan mainan setelah digunakan.
n.    Mengendalikan emosi, misalnya saat berpisah dengan ibu tanpa menangis,sabar menunggu giliran, berhenti bermain pada waktunya tidak cengeng,dapat membedakan milik sendiri dan orang lain, menunjukkan reaksi yangwajar karena marah, senang, sedih, takut, dan cemas.
o.    Sopan santun meliputi terbiasa mengucapkan terima kasih dengan baik atau meminta tolong dengan baik
p.    Menjaga keamanan diri, termasuk menghindar dari obat-obat berbahaya dan menghindar dari benda-benda yang berbahaya pula (Hidayat GBPKB 1995).

Sedangkan kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai pada aspek pengembangan moral-agama mengacu pada menu pembelajaran pada Pendidikan anak usia dini adalah kemampuan melakukan ibadah, mengenal dan percayakan ciptaan Allah dan mencintai sesama. Berikut ruang lingkup dan rinciannya berdasarkan kelompok mulai 3-6 tahun:
a.    menyanyikan lagu keagamaan
b.    Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan sikap berdoa
c.    Dapat melakukan gerakan ibadah
d.    Membedakan ciptaan tuhan dengan buatan manusia
e.    Menyayangi orang tua, orang di sekeliling, guru, teman, pembantu, binatang, dan tanaman.
f.    Mengenal/memahami sifat-sifat Tuhan, misalnya Maha Pengasih, MahaPenyayang, dan lain sebagainya
g.    Merasakan/ditunjukkan rasa sayang dan cinta kasih melalui belaian atau rangkulan
h.    Selalu mengucapkan terima kasih setelah menerima sesuatui.
i.    Mengucapkan kata-kata santun, misalnya maaf, tolong, dan lain-lain
j.    Menghargai teman dan tidak memaksakan kehendak
k.    Membantu pekerjaan ringan orang dewasa.

Sementara itu terkait dengan karakter atau sifat materi pengembangan moral dan nilai-nilai agama pada anak usia dini, guru harus dapat memilih materi yang sesuai dengan karakter anak usia dini, di antaranya
a.    bersifat terapan dan berkaitan dengan kegiatan rutin anak-anak dalam   kehidupan sehari-hari
b.    materi pembelajaran diupayakan bisa membuat anak senang, menikmati, dan     mengikuti kegiatan dengan antusias, dan
c.    mudah di tiru, yaitu materi yang disampaikan dapat dipraktikkan oleh anak dengan mudah.

Sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran, pelaksanaan penilaian harus dapat mengungkapkan dan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak didik, baik potensi kognitif, afektif maupun psikomotorik karena ketiga potensi tersebut satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu pelaksanaan proses pembelajaran menuntut perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh dalam upaya peningkatan kualitas anak didik.
Penilaian mencakup proses dan hasil kegiatan anak didik yang berkaitan dengan pengetahuan, sikap, dan perilaku serta keterampilan yang direncanakan dalam kegiatan belajar. Kenyataan menunjukkan bahwa cakupan hasil belajar yang berkenaan ranah pengetahuan (kognitif), sikap dan perilaku (afektif), serta keterampilan (psikomotor) merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, dan saling berkaitan satu dengan yang lain untuk mengahasilkan kreativitas pada diri anak didik. Berdasarkan undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 58 ayat (1) dinyatakan bahwa penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.”
Pendidikan nilai-nilai moral dan keagamaan pada program PAUD merupakan pondasi yang kokoh dan sangat penting keberadaannya, dan jika hal itu telah tertanam serta terpatri dengan baik dalam setiap insan sejak dini, hal tersebut merupakan awal yang baik bagi pendidikan anak bangsa untuk menjalani pendidikan selanjutnya. Bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan keagamaan. Nilai-nilai luhur ini pun dikehendaki menjadi motivasi spiritual bagi bangsa ini dalam rangka melaksanakan sila-sila lainnya dalam pancasila (Hidayat, 2007 : 7.9).

B.    DESAIN PENDEKATAN PEMBELAJARAN DALAM UPAYA MENUMBUHKAN PENGALAMAN BELAJAR MENYENANGKAN

Sesuai dengan karakteristik dunia anak taman kanak-kanak, berikut ini akan diuraikan beberapa pendekatan/metode pembelajaran, sebagai berikut :
1.    bermain peran
Adalah suatu kegiatan permainan untuk memerankan tokoh-tokoh atau benda-benda disekitar anak agar anakdapat mengembangkan daya khayal dan imajinasinya. Bermain peran juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengembangkan nilai-nilai agama,seperti bermain peran untuk menunjukkan ketika nabi ibrahim mengajarkan kaumnya yang musyrik, mencari keberadaan tuhan yang berhak disembah dan lain-lain sehingga anak dapat merasakan suasana kehidupan beragama yang rill dalam konteks belajar.
2.    karyawisata
Dalam pengembangan nilai agama,karyawisata dapat dijadikan alat untuk mengenalkan kebesaran tuhan, mengenalkan tempat ibadah,tempat bersejarah keagamaan dan sebagainya. Jika guru memiliki kemampuan membahas dan mengkomunikasikan berbagai jenis benda langit dan sebagainya maka dengan kemahirannya guru akan sampai pada pengenalan penciptanya dan pengaturnya yaitu, Tuhan Yang Maha Esa.
3.    Bercakap-cakap
Yaitu kegiatan percakapan antara guru dan anak, kegiatan ini dapat dijadikan alat untuk pengembangan NAM, contohnya bercakap-cakap dalam kegiatan NAM dengan mengambil tema kehidupan dipesisir laut,tentang keindahan laut,manfaat dan lain-lain.
4.    Demonstrasi
Pendekatan yang dilakukan guru dengan cara memperagakan suatu objek untuk memperjelas suatu informasi. Pendekatan ini sangat efektif dalam pengembangan NAM anak karena anak dapat mendengar, melihat, dan meniru cara tertentu yang diajarkan guru.
5.    Pendekatan proyek
Pengembangan nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam kegiatan berikut misalnya saat anak-anak dihadapkan untuk mempersiapkan peringatan besar keagamaan. Kegiatan memberikan pengalaman langsung bagi anak tentang bagaimana mereka membina hubungan sosial dan lain-lain.
6.    Bercerita
Penyampaian cerita hendaknya memuat misi pendidikan niai agama dengan memberikan cerita tentang kisah yang layak diteladani oleh anak.
7.    Pemberian tugas
Tugas yang diberikan kepada anak-anak hendaknya disampaikan dengan jelas, baik yang berhubungan dengan jelas, baik yang berhubungan dengan tugas lisan maupun tugas dalam bentuk gambar atau perilaku yang mesti diperankan anak.
8.    Keteladanan
Pengembangan NAM akan lebih tepat dan efektif apabila dilengkapi dengan konsitensi para guru dan orang tua dalam memberikan keteladanan, sebab keteladanan itu harus ditiru dan diikuti oleh anak yang cenderung melihat model yang ditangkapnya.
9.    Bernyanyi
Kegiatan bernyanyi merupakan kegiatan yang menyenangkan dalam mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak salah satunya adalah pengembangan NAM.
Penyusunan desain pembelajaran nilai-nilai keagamaan ini harus mempertimbangkan berbagai hal diantaranya :
a.    Kesesuaian tingkat perkembangan dan kebutuhan anak
b.    Mengacu pada kurikulum
c.    Berorientasi pada anak
d.    Menggunakan langkah-langkah kegiatan standar dan mengacu pada tujuan dan hasil belajar yang nyata/rill (authenthic assessment)

Contoh desain pembelajaran nilai agama yaitu :
Tema           : Binatang
Sub tema      : Ciri-ciri binatang
Tk/semester   : B/I

Kompetensi Dasar    Hasil Belajar    Indikator
Anak percaya akan ciptaan Allah, mencintai sesama (KLK. 1)     Anak dapat menyayangi dan memelihara semua ciptaan tuhan (KLK.1)    Menyanyangi dan memelihara semua ciptaan  tuhan

Metode /teknik :
a.    bercerita dengan alat (gambar seri)
b.    bernyanyi
c.    bercakap-cakap
Kegiatan belajar mengajar (KBM)
1.    guru mengkondisikan anak untuk mau menceritakan gambar seri
2.    anak memperhatikan petunjuk guru tentang gambar yang telah disediakan
3.    guru meminta anak secara klasikal menceritakan isi gambar tersebut
4.    guru mempersilahkan anak yang berani bercerita tentang gambar tersebut
5.    guru memberikan penguatan seketika atas keberanian anak bercerita
6.    guru memberikan kesempatan yang sama untuk kedua kalinya kepada anak yang lain secara bergiliran
7.    guru meminta umpan balik penilaian anak atas alur cerita yang disampaikan oleh anak yang berani maju kedepan kelas
8.    guru memberikan penguatan
9.    guru menjelaskan isi dari gambar seri dengan menghargai pendapat para anak yang telah bercerita sebelumnya dan menekankan tentang penjelasan nilai-nilai agama dari makna yang terdapat dalam misi gambar tersebut.
10.    Guru memberikan hadiah untuk semua anak dengan memberikan sebuah lagu ciptaan Allah.
Media pendukung : gambar seri “tema binatang dan tanaman”
Lagu “ciptaan Allah”
Aku berjalan
Ikan berenang
Ular melata
Burung terbang
Hujan turun
Bunga berkembang
Allah ciptakan karena sayang

Target kompetensi
1.    Anak dapat memiliki keberanian untuk mengungkapkan gagasannya.
2.    Anak dapat membaca isi gambar yang telah disiapkan guru
3.    Anak dapat memiliki kemampuan merangkai kata/kalimat secara lisan.




Penilaian:
a. lembar observasi
No     Nama anak    Baik    Cukup    Kurang
               
               

b. waktu penilaian : on going process


C.    INSTRUMENT PENILAIAN UNTUK PENGEMBANGAN NILAI KEAGAMAAN ANAK USIA DINI
Penilaian bertujuan untuk mengetahui ketercapaian kemampuan yang telah ditetapkan dalam Garis-garis Besar Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-kanak. Penilaian hasil belajar anak didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar anak didik secara berkesinambungan.
Prinsip-prinsip penilaian adalah menyeluruh, berkesinambungan, berorientasi pada proses dan tujuan, objektif, mendidik, kebermaknaan, dan kesesuaian.
Dalam proses kegiatan belajar, guru perlu melakukan penilaian atau evaluasi. Penilaian perlu dilaksanakan agar guru Taman Kanak-kanak mendapat umpan balik tentang kualitas keberhasilan dalam kegiatan anak yang diarahkan untuk pengembangan perilaku dan moralitas secara keseluruhan
Berkaitan dengan tujuan pengembangan nilai-nilai moral dan agama bagi anak di usia dini/Taman Kanak-kanak, tentu seorang pendidik harus mampu memahami bahwa anak usia dini/Taman Kanak-kanak sangat berbeda dalam segala hal dengan manusia dewasa pada umumnya. Perbedaan itu selayaknya disikapi dengan rasional pada saat guru akan melakukan penilaian dalam berbagai hal, termasuk di dalamnya menilai kondisi anak yang sesungguhnya.
a.    instrumen penilaian dalam pengembangan nilai-nilai keagamaan anak taman kanak-kanak
Penilaian itu menekankan pada proses pembelajaran. oleh sebab itu, data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan anak pada saat melakukan proses pembelajaran.
Pada saat kita akan melakukan penilaian dalam berbagai hal termasuk di dalamnya menilai perkembangan moral, kita perlu menentukan alat penilaian yang tepat dengan kondisi anak yang sesungguhnya. Alat pendukung tersebut adalah:
a)    pengamatan (observasi) dan pencatatan anekdot
b)    pemberian tugas meliputi tes perbuatan dan pertanyaan lisan sebagai latihan mengungkapkan gagasan dan keberanian berbicara.
c)    Hasil karya
b.    petunjuk penggunaan instrumen penilaian pengembangan nilai-nilai keagamaan anak taman kanak-kanak
Alat penilaian yang digunakan untuk menilai bidang pengembangan nilai-nilai agama adalah sebagai berikut : pengamatan (observasi), dan pencatatan anekdot, penugasan melalui tes perbuatan, pertanyaan lisan dan menceritakan kembali.
Hal-hal yang dapat dicatat guru sebagai bahan penilaian adalah :
a.    anak-anak yang belum dapat menyelesaikan tugas dengan cepat,
b.    kebiasaan atau perilaku anak yang belum sesuai dengan yang diharapkan dan
c.    kejadian-kejadian penting yang terjadi.
Pada hari penulisan pelaporan hasil penilaian pada laporan perkembangan anak. Sebelum uraian (diskripsi), terlebih dahulu dilaporkan perkembangan anak secara umum untuk tiap-tiap program pengembangan. Untuk laporan secara lisan dapat dilaksanakan dengan bertatap muka dan mengadakan hubungan atau informasi timbal balik antara pihak TK dan orang tua wali anak. Dan hasil data laporan anak hanya dibicarakan pada orang tua anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar